Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama, baik dalam jumlah, mutu dan gizi seperti diamanatkan oleh UU No 7 Tahun 1985 tentang Pangan. Tapi, kondisi ideal itu belum terwujud. Dari segi jumlah/kuantitas, produksi pangan nasional belum cukup memenuhi seluruh kebutuhan pangan nasional, alias belum mandiri, bahkan dalam beberapa komoditas pangan pokok (beras, gandum, jagung, kedelai dan gula) kita masih impor.
Mutu dan Gizi Rendah, Laba Melonjak
Demikian yang diungkapkan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam sambutannya ketika membuka Lokakarya Nasional “Diversifikasi Pangan Pokok Melalui Penguatan UKM Berbasis Teknologi”, yang berlangsung di Gedung BPPT, Jakarta, 28 MEi 2003. Sementara itu, lanjut Menristek, dari sisi mutu dan nilai gizi, kita juga masih rendah dan sebagian masyarakat masih menderita kekurangan gizi. Namun, di sisi lain, industri pangan termasuk pangan pokok Indonesia justru maju pesat. Coba bayangkan : jumlah industri menengah dan besar pada 1996 adalah 5608 buah dengan total penjualan 49,2 trilyun, menjadi 5612 buah pada tahun 2000 dengan total penjualan 125,9 trilyun; industri kecil dari 81 892 buah pada tahun 1996 menjadi 82 430 buah pada tahun 2000. Sumbangan industri pangan pada PDB meningkat dari 10% (1996) menjadi 13% (2000) dan itu lebih besar dari PDB minyak dan gas bumi (12%). Belum lagi jika melihat volume ekspor makanan olahan yang meningkat dari 818,5 juta dollar AS (1995) menjadi 955,5 juta dollar AS (2000). Sedangkan jumlah tenaga kerja yang diserap industri besar dan menengah meningkat dari 810 ribu orang (1995) menjadi 836 ribu orang (2000).
RUSNAS Diversifikasi Pangan Pokok
Apa masalahnya dan apa solusinya ? Langkah apa yang diambil oleh pemerintah untuk menyelesaikan masalah diatas ?. Tentang masalah ketidakmandirian, Menristek menyatakan, faktor yang menyebabkannya adalah rendahnya daya saing akibat rendahnya produktivitas, rendahnya efisiensi, rendahnya mutu dan keamanan produk pangan, yang kesemuanya, kata Menristek, disebabkan oleh lemahnya inovasi dan difusi teknologi.
Kendala itulah yang coba diselesaikan oleh satu tim dari Pusat Studi Pangan dan Gizi (PSPG) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang dipimpin oleh Dr. Dahrul Syah. Tim ini ditunjuk oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk mengelola RUSNAS (Riset Unggulan Strategis Nasional) Diversifikasi Pangan Pokok. Sebagaimana diketahui, Kementerian Negara Riset dan Teknologi dalam Prioritas Utama Nasional penelitian dan pengembangan IPTEK 2000-2004, memfokuskan pada 6 bidang, yakni pangan, bioteknologi, kesehatan, teknologi informasi, energi dan manufaktur.
Diungkapkan oleh Dahrul Syah, RUSNAS Diversifikasi Pangan Pokok ini bertujuan untuk mendorong terjadinya diversifikasi pangan pokok yang sesuai dengan potensi setempat yang pada akhirnya akan berkontribusi dalam pengembangan daerah. Ia juga mengungkap mengapa harus ada diversifikasi pangan pokok. Alasannya, pertama adalah konsumsi beras masyarakat Indonesia yang sangat tinggi (menyumbang 53% kebutuhan kalori dan 47% kebutuhan protein per hari) sementara hal itu tidak didukung jumlah produksi. Alasan kedua, kekayaan dan keragaman potensi wilayah/daerah yang berarti juga keragaman budaya dan kebiasaan makan. Namun, sejak lama keragaman tersebut diabaikan dan akibatnya keragaman pangan pokok non-beras, semisal beras jagung, tiwul, dan sebagainya, menjadi inferior.
Strategi Diversifikasi Pangan Pokok
Dahrul melanjutkan, ada 4 sasaran peningkatan yang harus dicapai melalui RUSNAS ini dan dilakukan melalui satu strategi utama.
Empat hal itu, ungkapnya, adalah :
(1)meningkatkan diversifikasi pangan secara horisontal, vertikal maupun regional, melalui penguasaan teknologi kunci;
(2)meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan pangan sesuai sumberdaya lokalnya;
(3)meningkatkan kompetensi dan kemampuan inovasi dunia usaha dalam strategi bisnisnya;
(4)meningkatkan keterkaitan suatu komoditi pangan dengan sektor ekonomi lainnya melalui pembentukan klaster industri yang terkait.
Lalu, apa strategi utamanya ?. Dahrul menyebutkan konsep penguatan klaster industri dan UKM berbasis teknologi. Apa yang dimaksud klaster industri ?. Klaster industri, kata Dahrul, menitikberatkan integrasi penuh dari seluruh kegiatan sepanjang mata rantai nilai (value chain). Sasaran utama pengembangan klaster industri, lanjut Dahrul, yakni meningkatkan dan mengembangkan nilai tambah sejak kegiatan paling hulu hingga paling akhir, baik produk manufaktur maupun jasa.
Mengenai dipilihnya UKM, diawali pada optimalisasi potensi lokal untuk peningkatan ketahanan pangan masyarakat. Dengan demikian, kata Dahrul, realitas itu justru memperkuat posisi strategis UKM dalam rangka diversifikasi pangan. Sebabnya, yakni karakter UKM itu sendiri.
Ada 4 karakter UKM yang diungkapkan oleh Dahrul, yang berkorelasi positif terhadap program RUSNAS ini :
(a) berbasis sumberdaya lokal sehingga dapat memanfaatkan potensi secara maksimal dan memperkuat kemandirian;
(b) dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat lokal;
(c) menerapkan teknologi indigenous sehingga dapat dikembangkan oleh tenaga lokal;
(d) tersebar dalam jumlah banyak sehingga merupakan alat pemerataan yang efektif.
Kendala UKM : Penguasaan Teknologi
Meski demikian, UKM memiliki kendala teknologi yang tercermin dari rendahnya keseragaman mutu produk dan sanitasi. Menurut Dahrul, ini terkait dengan terbatasnya kapasitas dan kesempatan untuk berinovasi atau mencoba teknologi baru. Melalui RUSNAS inilah, dengan hasil-hasil penelitian yang ada serta adaptif terhadap tantangan yang ada, kendala teknologi itu diharapkan dapat diselesaikan, dan akhirnya masyarakat dapat merasakan peningkatan mutu dan keragaman pilihan pangan pokok. Sekedar menyebut satu contoh, Dahrul menawarkan pangan berbasis jagung, yakni produk beras jagung dan yang akan dikembangkan yakni beras jagung instan. Beras jagung instan ini adalah beras jagung yang siap dimasak menjadi nasi jagung instan. Masalah rasa, ia mirip dengan nasi jagung non-instan, dan bahkan bisa siap dimasak dalam waktu 5 menit. Penyajiannya bisa dibuat sebagai nasi jagung goreng, nasi jagung uduk, bahkan “risotto” nasi jagung. Saat ini, kata Dahrul , juga sedang diteliti oleh staf-staf peneliti di PSPG-IPB, pembuatan makanan sarapan (breakfast cereals) berbasis ubi jalar (disebut sweet potato flakes)dan cassava plus (berbasis ubi kayu).
Artikel terkait :
- Kebumen Siap Aplikasikan Diversifikasi Pangan Pokok Diakui oleh Pemkab Kebumen, bahwa pendekatan klaster dan UKM merupakan langkah yang strategis untuk meningkatkan upaya peningkatan diversifikasi pangan. Hal...
- Keamanan Pangan Fungsional Berbasis Pangan Tradisional Berbagai pangan tradisional secara empiris telah diketahui mempunyai khasiat dan saat ini telah pula dikembangkan sebagai pangan fungsional. Disamping mutu...
- Berdayakan UKM Berbasis Teknologi Dan Sumber Daya Lokal Strategi Ketahanan Bisnis UKM Menurut Eriyatno, ketahanan bisnis dan UKM, termasuk usaha mikro, dicirikan oleh tingginya pemakaian modal sendiri (self...
- Antara Gaplek, Tiwul dan Teknologi, Gunung Kidul : Berkah Pernahkan anda ke Gunung Kidul ?. Atau, tahukah anda dimana letaknya ?. Jika anda lahir dan besar di Jawa Tengah,...
- Manajemen produksi pangan dengan DNA checker Menyusul kasus penipuan produksi daging dari Yuki zirushi serta Nippon Ham beberapa waktu yang lalu, pada bulan September ini, Seiyu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar